Mencintai, Tak Cukup Sampai Mati

“Aku ingin kita punya rumah sendiri, kecil juga tidak apa-apa, yang penting ada suara laki-laki mengaji, suara itu adalah suaramu,” kata Ibu waktu statusnya masih pacaran sama Bapak.

“Jangan kuatir, untukmu akan kubangunkan rumah tiga lantai,” jawab Bapak serius. “Sungguh! Tiga lantai, terdiri dari lantai kamar, lantai kamar mandi, dan lantai dapur merangkap ruang makan, ruang tamu, ruang serbaguna. Tiga lantai kan? hahahahhha.” sambung Bapak bercanda.

Kedengarannya saja bercanda, tapi kau tahu, sejak saat itu Bapak mulai menabung. Bukan menabung uang karena belum punya penghasilan, tapi menabung batu bata yang kelak akan dipakai untuk membangun rumah impian Ibu, yang dalam perhitungan Bapak dibutuhkan sekitar sepuluh ribu. Maka mulailah Bapak mengolah sebidang tanah milik orang tuanya. Ia cangkul tanah itu sendiri, sampai mencetaknya pun sendiri, tapi tak jarang juga kakekku membantu.

Bapak tak pernah berhitung kapan jumlah sepuluh ribu itu tercapai, pokoknya mencetak dan mencetak saja terus. Apalagi ibu, tak pernah ia melihat batu bata itu jadinya seperti apa, kokoh kah? rapuh kah? tak presisi kah?

Yang Ibu lihat adalah seorang lelaki yang sangat amatir dalam ilmu cetak bata tapi sangat profesional dan piawai dalam hal mencintai, sekelas kepiawaian BJ Habibie dalam bidang pesawat terbang, sekelas Rudy Hartono dalam bidang bulu tangkis.

Tak lama setelah Bapak-Ibu menikah, berdirilah rumah “tiga lantai” itu. Sebagian besar bahannya dicetak oleh tangan Bapak, kekurangan-kekurangan kecil lainnya disumbang oleh orangtua masing-masing. Sekarang tinggal mengisinya dengan suara laki-laki mengaji. Dan inilah masalah besarnya.

Latar belakang keluarga Bapak, dalam hal pendidikan agama berbeda dengan keluarga Ibu.
Kakekku dari Ibu adalah jebolan Pondok Pesantren Tebuireng. Kegiatan sehari-harinya selain menjadi pegawai Pegadaian adalah imam masjid. Terbayang bagaimana suasana keagamaan dalam keluarga Ibu. Sementara orang tua Bapak adalah petani totok yang bermandikan lumpur sawah. Agama sekedarnya saja. Tak apa tak bisa mengaji asal tak mencuri.

Tak heran Bapak tak bisa mengaji. Sholat pun mirip puasa senin-kamis, jarak antara sholat ashar ke maghrib bisa dua sampai tiga hari. Ibu sudah sering mengingatkan dengan lembut sampai agak keras. Tapi rupanya mencetak orang taat itu harus dari usia dini, tak bisa secepat dan semudah mencetak bata.

Puncaknya pada suatu malam Ibu mendapati Bapak pulang dengan mulut bau alkohol. Bapak tak bisa mengelak, tapi ia mengaku dipaksa minum oleh bos di tempat kerjanya. Ibu menyerah. Ibu pulang ke rumah orangtuanya padahal Bapak bersungguh-sungguh bilang sangat mencintai Ibu.

“Untuk membangun rumah ini mungkin cukup dengan modal mencintaiku. Tapi tidak mungkin membangun rumah tangga yang sakinah bila tak mencintai Allah dan Rasulnya,” kata Ibuku tegas.

Bapak sering mendengar tentang ancaman siksa api neraka bagi yang meninggalkan sholat. Namun bagi Bapak, kepergian Ibu adalah neraka yang datangnya dipercepat, bukan di hari akhirat tapi di hari pertama rumah itu kosong tanpa Ibu.

Tak menunggu waktu lama, Bapak menyusul Ibu ke rumah orang tuanya. Namun saat itu Ibu mengurung diri di kamar. Tak bisa lain, Bapak hanya bisa bicara dari balik pintu.

“Ayuk, pulang. Rumah itu sudah jadi neraka tanpa kamu. Kalau kamu masih mencintai aku, pulang. Selamatkan aku.”

Tak ada respon apa-apa dari balik pintu, Bapak bicara lebih keras. “Aku mau sholat dan belajar ngaji, tapi harus kamu sendiri yang ngajari. Aku sudah tua, tak tahu harus belajar ngaji dimana. Di desa hanya ada guru ngaji untuk anak-anak. Aku malu. Tolonglah. Harap kamu memaklumi keadaanku.”

Pintu berderit, Ibu keluar dengan wajah sembab. Bapak menyambutnya dengan mengangsurkan sebuah buku belajar mengaji. “Lihat, aku sudah beli iqro,” kata Bapak dengan wajah berbinar seperti dulu ketika bilang mau mencetak batu bata sendiri. Bagi Ibu itu sudah cukup.

Tak mudah mengajari Bapak mengaji. Butuh ketekunan dan kesabaran luar biasa. Lidahnya kadung kaku. Satu ayat pendek saja bisa memakan waktu lama. Tapi itulah cara Ibu membalas setiap tetes keringat Bapak ketika mencetak batu bata dulu, itulah cara Ibu mencintai Bapak.

“Karena mencintai itu tak cukup hanya sampai mati, tapi sampai sesudah mati,” kata Ibuku, dan ingin kupegang kata-kata itu sampai sekarang.


  • Share this post

Comments

Leave a Comment